Konflik Palestina-Israel
yang berkepanjangan membuat semua Muslim gerah dan sangat mengecam
Israel, dukungan moral dan material terus mengalir ke Palestina baik
individu maupun golongan, walaupun tidak ada satupun negara Islam yang
mampu berbuat banyak untuk Palestina, bermacam solusi ditawarkan untuk
Palestina-Israel, agar Israel tidak lagi mengganggu kaum Muslimin di
Palestina, namun dari sekian banyak solusi yang ditawarkan, ada satu
solusi super kontroversi ditawarkan oleh seorang ilmuan Islam, Syeikh Muhammad Nasiruddin al-Albani
menawarkan solusi untuk Palestina agar mereka undur dan lari dari
jihad mempertahankan tanah air mereka dari jajahan Israel, mengalah dan
menyerahkan tanah air mereka untuk Israel adalah solusi terbaik untuk Palestina menurut Syeikh al-Albani, fatwa Syeikh al-Albani ini justru membuat gerah para ilmuan Muslim dan ummat Islam seluruh dunia.
Syeikh Muhammad Nasiruddin al-Albani, yang dianggap oleh majoriti Salafi Wahab
sebagai ulama terbesar mereka, telah mengeluarkan sebuah fatwa beberapa
tahun yang lalu yakni bahwa semua kaum muslim di Palestina, Libanon
Selatan, dan Dataran Tinggi Golan harus meninggalkan tanah/negeri mereka
secara massal dan pergi ketempat lain. Alasan dia (dan dia tetap
memegangnya) bahwa setiap Negeri Muslim yang diduduki/dijajah oleh orang
Non-Muslim maka menjadi Negeri Non-Muslim. Oleh karenanya setiap Muslim
dilarang tinggal/menetap disitu.
Ketika beberapa orang menanyakan kepadanya, dengan terheran-heran,
bahwa tidak akan ada satu negarapun didunia yang mau menampung
orang-orang/bangsa Palestina, bahkan Saudi Arabia pun, dia mengatakan: “Mereka mungkin boleh mencuba pergi ke Sudan, disana mereka mungkin akan ditampung.”
Sebagai catatan, al-Albani ini adalah orang yang mengklaim dirinya
sendiri sebagai ulama. Banyak yang menantangnya untuk menunjukkan walau
satu saja ijazah yang diberikan kepadanya oleh sebarang gurunya
(kalaupun dia punya).
Dia tidak pernah boleh menunjukkan/membuktikannya
sampai sekarang. Yang kelihatan pada al-Albani justru fatwa-fatwanya
sama sekali tidak berdasar ilmu hadis, sementara para pengikutnya tetap
menganggapnya sebagai “Muhaddis Masa Kini”. Dia banyak mengeluarkan
fatwa dalam hampir semua ilmu-ilmu Islam. Al-Albani juga mengeluarkan
komentar atas buku aqidah “Al-Aqidah at-Tahawiyya”.
Berikut ini adalah terjemahan dari salah satu tanggapan/sanggahan
Syeikh Buti terhadap al-Albani. Syeikh Buti adalah salah seorang ulama
terkemuka Syria: [Diambil dari buku "Strife in Islam" (Al-Jihad fil
Islam: Kayfa Nafhamuhu wa Kayfa Numarisuhu), Dr. Muhammad Sa’id Ramadan
al-Buti, 2nd edition, Dar Al-Fikr, Damascus, Syria, 1997.]
“Syeikh Nasiruddin al-Albani telah mengejutkan masyarakat, dalam
beberapa bulan terakhir ini, dengan fatwa sesatnya yang sangat jauh dari
ajaran-ajaran Syariat Islam dan sangat berlawanan/kontradiksi dengan
pokok-pokok dan hukum-hukum agama (Islam – penj).
Dia menyatakan secara terbuka dan dihadapan semua saksi, bahwa semua
Muslim dan bangsa Palestina yang masih berada di tanah/negeri yang
diduduki/dijajah wajib meninggalkan seluruh negeri itu dan
menyerahkannya kepada kaum Yahudi, yang telah mengubahnya, setelah
mereka menjajahnya, menjadi sebuah Negeri Kafir.
Kalaulah tidak dimuat dimedia massa dan tidak ada kaset rekaman suara
al-Albani yang mengatakan sendiri hal ini, maka sulit buat saya untuk
mempercayainya.
Ini karena seorang s yang paling awam pun mengetahui apa yang
terdapat pada semua sumber Syariat Islam, bahwa sebuah Negeri Islam akan
tetap, secara sah, menjadi Negeri Islam sampai Hari Kebangkitan, tak
peduli apapun yang diperbuat oleh orang-orang kafir ataupun musuh
terhadap Negeri Islam tersebut. Dan adalah kewajiban bagi setiap muslim
untuk memenuhi tanggungjawabnya dengan membersihkan/mengusir para
agresor dari negeri tersebut. Dan menurut Abu Hanifah yang mengemukakan
kemungkinan berubahnya Negeri Islam menjadi Negeri Kafir syaratnya
adalah bahwa tanda-tanda Islam telah disingkirkan/dihilangkan darinya
dan diganti dengan aturan-aturan kafir, bahwa tidak ada seorang muslim
atau kafir dzimmi pun yang masih tinggal disitu merasa aman dengan hukum
Islam yang murni/asli, dan bahwa negeri itu diberi batas sebagai
Negeri Kafir ataupun Negeri Perang. Dan kita tahu bahwa tidak satupun
syarat tersebut ada pada negeri yang sedang dijajah (Palestina – penj),
sebab tanda-tanda Islam secara terbuka masih tetap eksis disana, kaum
muslimin masih tetap bisa menikmati hukum-hukum Islam, dan tidak ada
batas tersendiri sebagai Negeri Kafir ataupun Negeri Perang dalam
Wilayah/Negeri Jajahan tersebut, saat ini.
Tetapi syeikh (al-Albani), yang menganggap dirinya sebagai “Muhaddis
Masa Kini”, telah melanggar ijma’ sah ini, yang mana dia tidak punya
pengetahuan tentangnya. Lalu dia mengumumkan/memfatwakan tanpa
kesepakatan ummat bahwa Palestina telah berubah, yang tentu saja
menguntungkan Israel, menjadi Negeri Kafir dan Negeri Perang. Oleh
karena itu, sudah menjadi kewajiban semua muslim yang adalah pemilik dan
penduduknya untuk mengecam/menentangnya.
Misteri apa yang ada dibalik diamnya si syeikh ini selama
bertahun-tahun sebelumnya sampai cahaya keimanan Intifadha muncul
dijantung Tanah Jajahan, dan gerakan perlawanan Hamas didirikan yang
menimbulkan fenomena teror dihati dan jiwa para penjajah, lalu tiba-tiba
si syeikh ingat akan hal ini dan kemudian menyadarinya bahwa inilah
saat/waktunya baginya untuk memfatwakannya secara eksplisit disemua
media massa. Dan baginya telah tibanya waktunya, yang karenanya dia
mulai beraksi itu, adalah dengan munculnya gerakan Intifadha yang
bersama para pemilik sah (rakyat – penj) Tanah Jajahan telah meraih
segala kesuksesan yang tidak diharapkannya, karena dengan demikian dia
dapat membantu Israel keluar dari segala kesulitan yang membelenggu
mereka dan telah banyak menguras sumberdaya mereka (Israel – penj).
Inikah sesungguhnya waktunya bagi syeikh gadungan/pengkhianat ini untuk
memberitahukan kepada kita rahasia dibalik disimpannya fatwa tersebut
didadanya selama ini sampai kemudian dia munculkan sekarang?!. Dan,
tentang diamnya dia selama ini atas dosa kaum muslimin karena masih
tetap tinggal di Negeri Kafir hingga hari ini?!
Dan sungguh kita bersyukur kepada Allah bahwa fatwa dia (al-Albani –
penj) yang batil tersebut telah gagal yang mana hal ini ditunjukkan
dimana rakyat Suriah, Aljazair, Mesir dan Libia hari-hari ini justru
meningkatkan jihad dinegeri mereka masing-masing untuk membebaskan
mereka dari belenggu kolonialisasi dan agresi para tiran. Ataukah, kaum
muslimin dinegeri-negeri tersebut di atas wajib meninggalkan negeri
mereka, sebuah keuntungan bagi musuh mereka, karena negeri mereka
sekarang dikategorikan sebagai Negeri Kafir?! (bila hal ini terjadi)
Maka hari ini kita akan melihat bahwa para tiran dan penjajah itu memang
punya hak yang legal (untuk terus menjajah – penj). Dan siapa yang tahu
bahwa memang inilah yang lebih disukai/diinginkan oleh syeikh
gadungan/pengkhianat ini?!"
[Yang tersebut di atas adalah apa yang ditulis oleh Dr. Buti pada
Edisi Pertama dan diulangi pada Edisi Kedua dalam buku beliau. Berikut
ini apa yang beliau tambahkan pada Edisi Kedua]
Dan sekarang saya katakan, tambahan beberapa kalimat pada Edisi
Kedua ini setelah kami menunggu si syeikh bakal menarik fatwa sesatnya
tersebut, karena kembali kepada kebenaran itu adalah suatu
kemuliaan/keutamaan. Tetapi dia tidak pernah melakukannya walaupun
seluruh dunia muslim menentangnya gara-gara fatwanya itu. Juga, ada
segelintir pembaca yang menilai bahwa penyebutan Gadungan/Pengkhianat
(suspected) terhadap syeikh sebagai kurang tepat. Tetapi sebutan itu
diberikan kepada seseorang yang mengeluarkan suatu fatwa dengan
berkolaborasi dengan pihak asing. Jadi, penyebutan itu tidak ekstrim
tetapi sudah sesuai dengan realitas/kenyataan.
dari sahabt bernama : Suara Aswaja
No comments:
Post a Comment