Imamnya Wahabi Salafi yang Telah Bertaubat dari Kesesatannya.
Kisah Taubatnya Ibnu Taimiyah di Tangan Para Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah (Fakta Sejarah)
Sedikit akan saya ungkap fakta sejarah yang jarang dikupas secara singkat tentang kisah taubatnya seorang figur yang menjadi cikal-bakal ajaran Wahhabiyah yaitu Ibnu Taimiyyah al-Harrani. Fakta sejarah ini telah ditulis oleh banyak ulama Ahlussunnah wal Jama'ah yang hidup sezaman dengan Ibnu Taimiyyah bahkan di antara mereka adalah mantan murid dari Ibnu Taimiyyah, seperti adz-Dzahabi dan Ibnu Syakir.
Para ulama yang menulis sejarah Ibnu Taimiyyah adalah orang-orang yang hidup semasa dengan Ibnu Taimiyyah, mereka menyaksikan, bertemu langsung dan bahkan ada yang berguru kepadanya sebelum Ibnu Taimiyyah menyimpang dari ajaran salaf kemudian membebaskan diri setelah mengetahui Ibnu Taimiyyah menyimpang dari ajaran mayoritas umat muslim. Maka mereka para ulama tersebut lebih mengetahui sejarah dan ajaran Ibnu Taimiyyah ketimbang kita dan para Wahabi sekarang ini.
Sebelumnya ada baiknya kita mengetahui sedikit komentar para ulama Ahlussunnah wal Jama'ah tentang ajaran Ibnu Taimiyyah:
Seorang Ahli Hadits yang mendapat gelar al-Hafidz al-Faqih, Waliyuddin al-‘Iraqi bin Syaikh al-Haffadz Zainuddin al-‘Iraqi berkata: " Sesungguhnya Ibnu Taimiyyah telah merusak mayoritas umat muslim di dalam banyak permasalahan, dikatakan mencapai 60 permasalahan sebagian mengenai akidah dan sebagian lainnya mengenai furu'. Ia telah menyalahi permasalahan-permasalahan yang telah disepakati oleh umat Islam.
(Al-Ajwibat al-Mardhiyyat 'ala al-Mas-alat al-Makkiyyah)
Syaikh Ibnu Hajar al-Haitamy berkata dengan menukil permasalahan-permasalahan Ibnu Taimiyyah yang menyalahi kesepakaran umat Islam, yaitu: “(Ibnu Taimiyyah telah berpendapat) bahwa Alam itu bersifat dahulu dengan satu macam, dan selalu makhluk bersama Allah. Ia telah menyandarkan alam dengan Dzat Allah Swt. bukan dengan perbuatan Allah secara ikhtiar, sungguh Maha Luhur Allah dari penyifatan yang demikian itu. Ibnu Taimiyyah juga berkeyakinan adanya jisim pada Allah Swt, arah dan perpindahan. Ia juga berkeyakinan bahwa Allah tidak lebih kecil dan tidak lebih besar dari ‘Arsy. Sungguh Allah Maha Suci atas kedustaan keji dan buruk ini serta kekufuran yang nyata.
(Al-Fatawa al-Haditsiyyah:116).
Beliau Syaikh Ibnu Hajar juga berkata: "Maka berhati-hatilah kamu, jangan kamu dengarkan apa yang ditulis oleh Ibnu Taimiyyah dan muridnya Ibnul Qoyyim al-Jauziyyah dan selain keduanya dari orang-orang yang telah menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah telah menyesatkannya dari ilmu serta menutup telinga dan hatinya dan menjadikan penghalang atas pandangannya. Maka siapakah yang mampu memberi petunjuk atas orang yang telah Allah jauhkan? Bagaimana orang-orang sesat itu telah melampaui batasan-batasan syari'at dan aturan, dan mereka pun juga telah merobek pakaian syari'at dan hakikat, mereka masih menyangka bahwa mereka di atas petunjuk dari Tuhan mereka, padahal sungguh tidaklah demikian.
(Al-Fatawa al-Haditsiyyah:203)
Seorang ulama besar Syaikh Abu al-Hasan Ali ad-Dimasyqi berkata dari ayahnya bahwasanya beliau bercerita: "Ketika kami sedang duduk di majlis Ibnu Taimiyyah, dan ia berceramah hingga sampai pada pembahasan ayat Istiwa, ia berkata, "Allah Swt. beristiwa di atas ‘ArasyNya seperti istiwaku ini", maka manusia kaget dan segera melompat ke arah Ibnu Taimiyyah dengan satu lompatan dan menurunkannya dari kursi kemudian orang-orang segera menampar dan memukulnya dengan sandal-sandal mereka dan selainnya. Mereka membawa Ibnu Taimiyyah ke salah satu hakim, maka berkumpullah di majlis tersebut para ulama dan mereka mulai menginterogasinya. "Apa dalil dari yang telah engkau katakan tadi.......?
Ibnu Taimiyyah menjawab: "Firman Allah Swt. Ar-Rahmaanu 'ala al- ‘Arsyistawaa", maka para ulama tertawa dan tahulah mereka bahwa Ibnu Taimiyyah adalah orang bodoh. yang tidak mengetahui kaidah-kaidah ilmu. Kemudian para ulama bertanya lagi untuk memastikan urusannya.
Apa pendapatmu tentang firman Allah Swt. Fainamaa tuwallu fatsamma wajhullah...??
(Di manapun kamu menghadap maka di sanalah wajah Allah......?
Maka Ibnu Taimiyyah menjawab dengan jawaban yang meyakinkan bahwa ia termasuk orang bodoh yang sebenarnya, ia tidak mengetahui apa yang ia katakan dan ia telah tertipu oleh pujian orang-orang awam padanya dan beberapa para ulama jumud yang kosong dari ilmu yang berdasarkan dalil-dalil.
(Al-Maqoolat as-Sunniyah:36).
Sangat banyak hujatan para ulama Aswaja (Ahlussunnah wal Jama'ah) kepada Ibnu Taimiyyah mengenai ajaran-ajarannya yang menyimpang dari mayoritas ulama dan umat Islam, bahkan para ulama sempat mengarang kitab-kitab untuk membantah ajaran-ajarannya dan demi menyelamatkan umat Islam dari kesesatannya, iantaranya ialah.
1. Al-Qâdhî al-Mufassir Badruddin Muhammad ibn Ibrahim ibn Jama'ah asy-Syafi'i (w. 733 H).
2. Al-Qâdhî ibn Muhammad al-Hariri al-Anshari al-Hanafi
.
3. Al-Qâdhî Muhammad ibn Abibakr al-Maliki.
4. Al-Qâdhî Ahmad ibn Umar al-Maqdisi al-Hanbali.
(Keempat ulama yang juga menjabat Qadhi inilah yang merekomendasikan fatwa untuk memenjarakan Ibnu Taimiyyah dan sempat berpindah-pindah penjara).
5. Syaikh Shaleh ibn Abdillah al-Batha-ihi
6. Syaikh al-Munaibi' ar-Rifa'I, salah seorang ulama terkemuka yang telah menetap di Damaskus (w. 707 H).
7. Syaikh Kamaluddin Muhammad ibn Abi al-Hasan Ali as-Sarraj ar-Rifa'i al-Qurasyi asy-Syafi'I, salah seorang ulama terkemuka yang hidup semasa dengan Ibn Taimiyah sendiri.
(Tuffâh al-Arwâh wa Fattâh al-Arbâh)
8. Ahli Fiqih dan ahli teologi serta ahli tasawwuf terkemuka di masanya; Syaikh Tajuddin Ahmad ibn ibn Athaillah al-Iskandari asy-Syadzili (w. 709 H).
9. Pimpinan para hakim (Qâdhî al-Qudhât) di seluruh wilayah negara Mesir; Syaikh Ahmad ibn Ibrahim as-Suruji al-Hanafi (w. 710 H)
(I'tirâdhât 'alâ ibn Taimiyah fi 'Ilm al-Kalâm).
10. Pimpinan para hakim madzhab Maliki di seluruh wilayah negara Mesir pada masanya; Syaikh Ali ibn Makhluf (w. 718 H). Di antara pernyataannya sebagai berikut: "Ibn Taimiyah adalah orang yang berkeyakinan tajsîm, dan dalam keyakinan kita barangsiapa berkeyakinan semacam ini maka ia telah menjadi kafir yang wajib dibunuh.
11. Syaikh al-Faqîh Ali ibn Ya'qub al-Bakri (w. 724 H). Ketika suatu waktu Ibn Taimiyah masuk wilayah Mesir, Syaikh Ali ibn Ya'qub ini adalah salah seorang ulama terkemuka yang menentang dan memerangi berbagai faham sesatnya.
12. Al-Faqîh Syamsuddin Muhammad ibn Adlan asy-Syafi'i (w. 749 H). Salah seorang ulama terkemuka yang hidup semasa dengan Ibn Taimiyah yang telah mengutip langsung bahwa di antara kesesatan Ibn Taimiyah mengatakan bahwa Allah berada di atas ‘Arsy, dan secara hakekat Dia berada dan bertempat di atasnya, juga mengatakan bahwa sifat Kalam Allah berupa huruf dan suara.
13. Imam al-Hâfidz al-Mujtahid Taqiyuddin Ali ibn Abd al-Kafi as-Subki (w. 756 H).
(al-I'tibâr bi Baqâ' al-Jannah wa an-Nâr, ad-Durrah al-Mudhiyyah fî ar-Radd 'alâ Ibn Taimiyah, Syifâ' as-Saqâm fî Ziyârah Khair al-Anâm, an-Nadzar al-Muhaqqaq fi al-Halaf Bi ath-Thalâq al-Mu'allaq, Naqd al-Ijtimâ' wa al-Iftirâq fî Masâ-il al-Aymân wa ath-Thalâq, at-Tahqîq fî Mas-alah at-Ta'lîq, Raf'u asy-Syiqâq fî Mas'alah ath-Thalâq).
14. Al-Muhaddits al-Mufassir al-Ushûly al-Faqîh Muhammad ibn Umar ibn Makki yang dikenal dengan sebutan Ibn al-Murahhil asy-Syafi'i (w. 716 H). Di masa hidupnya ulama besar ini telah berdebat dan memerangi Ibn Taimiyah.
15. Imam al-Hâfidz Abu Sa'id Shalahuddin al-'Ala-i (w. 761 H). Imam terkemuka ini mencela dan telah memerangi Ibn Taimiyah.
(Lihat kitab Dakhâ-ir al-Qashr fî Tarâjum Nubalâ' al-'Ashr karya Ibn Thulun pada halaman 32-33, Ahâdîts Ziyârah Qabr an-Nabi).
16. Pimpinan para hakim (Qâdhî al-Qudhât) kota Madinah Imam Abu Abdillah Muhammad ibn Musallam ibn Malik ash-Shalihi al-Hanbali (w. 726 H).
17. Imam Syaikh Ahmad ibn Yahya al-Kullabi al-Halabi yang dikenal dengan sebutan Ibn Jahbal (w. 733 H), semasa dengan Ibn Taimiyah sendiri.
(Risâlah fî Nafyi al-Jihah).
18. Al-Qâdhî Kamaluddin ibn az-Zamlakani (w. 727 H). Ulama besar yang semasa dengan Ibn Taimiyah ini telah memerangi seluruh kesesatan Ibn Taimiyah, hingga beliau menuliskan dua risalah untuk itu. Pertama dalam masalah talaq, dan kedua dalam masalah ziarah ke makam Rasulullah.
19. Al-Qâdhî Shafiyuddin al-Hindi (w. 715 H), semasa dengan Ibn Taimiyah sendiri
.
20. Al-Faqîh al-Muhaddits Ali ibn Muhammad al-Baji asy-Syafi'i (w. 714 H). Telah memerangi Ibn Taimiyah dalam empat belas keyakinan sesatnya, dan telah mengalahkan serta menundukannya.
21. Sejarawan terkemuka (al-Muarrikh) al-Faqîh al-Mutakallim al-Fakhr ibn Mu'allim al-Qurasyi (w. 725 H).
(Najm al-Muhtadî wa Rajm al-Mu'tadî)
22. Al-Faqîh Muhammad ibn Ali ibn Ali al-Mazini ad-Dahhan ad-Damasyqi (w. 721 H).
(Risâlah fî ar-Radd 'alâ Ibn Taimiyah fî Mas-alah ath-Thalâq, Risâlah fî ar-Radd 'alâ Ibn Taimiyah Fî Mas-alah az-Ziayârah).
23. Al-Faqîh Abu al-Qasim Ahmad ibn Muhammad ibn Muhammad asy-Syirazi (w. 733 H).
(Risâlah fi ar-Radd 'alâ Ibn Taimiyah)
24. Al-Faqîh al-Muhaddits Jalaluddin al-Qazwini asy-Syafi'i (w. 739 H).
25. As-Sulthan Ibn Qalawun (w. 741 H). Beliau adalah Sultan kaum Muslimin saat itu, telah menuliskan surat resmi prihal kesesatan Ibn Taimiyah.
26. Al-Hâfizh adz-Dzahabi (w. 748 H) yang merupakan murid Ibn Taimiyah sendiri.
(Bayân Zaghl al-'Ilm Wa ath-Thalab, an-Nashîhah adz-Dzahabiyyah.
27. Al-Mufassir Abu Hayyan al-Andalusi(w. 745 H).
(Tafsîr an-Nahr al-Mâdd min al-Bahr al-Muhîth)
28. Syaikh Afifuddin Abdullah ibn As'ad al-Yafi'i al-Yamani al-Makki (w. 768 H).
29. Al-Faqîh Syekh Ibn Bathuthah, salah seorang ulama terkemuka yang telah banyak melakukan rihlah (perjalanan).
30. Al-Faqîh Tajuddin Abdul Wahhab ibn Taqiyuddin Ali ibn Abd al-Kafi as-Subki (w. 771 H).
(Thabaqât asy-Syâfi'iyyah al-Kubrâ)
31. Seorang ulama ahli sejarah terkemuka (al-Muarrikh) Syekh Ibn Syakir al-Kutubi (w. 764 H). ('Uyûn at-Tawârikh)
32. Syaikh Umar ibn Abi al-Yaman al-Lakhmi al-Fakihi al-Maliki (w. 734 H).
(at-Tuhfah al-Mukhtârah fî ar-Radd 'alâ Munkir az-Ziyârah)
33. Al-Qâdhî Muhammad as-Sa'di al-Mishri al-Akhna'i (w. 750 H).
(al-Maqâlât al-Mardhiyyah fî ar-Radd 'alâ Man Yunkir az-Ziyârah al-Muhammadiyyah, dicetak satu kitab dengan al-Barâhîn as-Sâthi'ah karya Syaikh Salamah al-Azami)
34. Syaikh Isa az-Zawawi al-Maliki (w. 743 H).
(Risâlah fî Mas-alah ath-Thalâq)
35. Syekh Ahmad ibn Utsman at-Turkimani al-Jauzajani al-Hanafi (w. 744 H).
(al-Abhâts al-Jaliyyah fFî ar-Radd 'alâ Ibn Taimiyah)
36. Imam al-Hâfidz Abdurrahman ibn Ahmad yang dikenal dengan Ibn Rajab al-Hanbali (w. 795 H).
(Bayân Musykil al-Ahâdîts al-Wâridah Fî Anna ath-Thalâq ats-Tsalâts Wâhidah)
37. Imam al-Hâfidz Ibn Hajar al-‘Asyqalani (w. 852 H).
(ad-Durar al-Kâminah fî A'yân al-Miah ats-Tsâminah, Lisân al-Mizân, Fath al-Bâri Syarh Shahîh al-Bukhâri, al-Isyârah bi Thuruq Hadîts az-Ziyârah).
38. Imam al-Hâfidz Waliyuddin al-Iraqi (w. 826 H).
(al-Ajwibah al-Mardhiyyah fî ar-Radd 'alâ al-As-ilah al-Makkiyyah)
39. Al-Faqîh al-Muarrikh Imam ibn Qadhi Syubhah asy-Syafi'i (w. 851 H).
(Târîkh ibn Qâdhî Syubhah).
40. Al-Faqîh al-Mutakallim Abubakar al-Hushni penulis kitab Kifâyah al-Akhyâr (w. 829 H).
(Daf'u Syubah Man Syabbah wa Tamarrad wa Nasaba Dzâlika ilâ Imam Ahmad)
41. Salah seorang ulama terkemuka di daratan Afrika pada masanya; Syaikh Abu Abdillah ibn Arafah at-Tunisi al-Maliki (w. 803 H).
40. Al-'Allâmah Ala'uddin al-Bukhari al-Hanafi (w. 841 H). Beliau mengatakn bahwa Ibn Taimiyah adalah seorang yang kafir. Beliau juga mengkafirkan orang yang menyebut Ibn Taimiyah dengan Syaikh al-Islâm jika orang tersebut telah mengetahui kekufuran-kekufuran Ibn Taimiyah. Pernyataan al-'Allâmah Ala'uddin al-Bukhari ini dikutip oleh Imam al-Hâfidz as-Sakhawi dalam kitab adh-Dhau' al-Lâmi'. Dan masih banyak lagi ulama yang lainnya.
Sekarang marilah kita simak penuturan seorang ulama yang sezaman dengan Ibnu Taimiyyah yaitu Ibnu Syakir al-Kutuby dalam salah satu kitab tarikhnya juz 20 yang telah diabadikan oleh seorang ulama besar dari kalangan Ahlussunnah yang terkenal di seluruh penjuru dunia yaitu al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asyqolani dalam kitabnya "ad-Duror al-Kaminah" dan beliau juga penyarah kitab Shohih Bukhori yang dinamakan Fathu al-Bari. Berikut penuturan beliau yang begitu panjang namun saya singkat dengan tanpa menghilangkan maksud tujuannya:
Sidang Pertama:
Di tahun 705 H di hari ke delapan bulan Rajab, Ibnu Taimiyyah disidang dalam satu majlis persidangan yang dihadiri oleh para penguasa dan para ulama ahli fiqih di hadapan wakil sulthon. Maka Ibnu Taimiyyah ditanya tentang akidahnya, lalu ia mengutarakan sedikit dari akidahnya. Kemudian dihadirkan kitab akidahnya “al-Wasithiyyah” dan dibacakan dalam persidangan, maka terjadilah pembahasan yang banyak dan masih ada sisa pembahasan yang ditunda untuk sidang berikutnya. Dan di tahun 707 H hari ke-6 bulan Rabi'ul Awwal hari Kamis, Ibnu Taimiyyah menyatakan taubatnya dari akidah dan ajaran sesatnya di hadapan para ulama Ahlussunnah wal Jama'ah dari kalangan empat madzhab, bahkan ia membuat perjanjian kepada para ulama dan hakim dengan tertulis dan tanda tangan untuk tidak kembali ke ajaran sesatnya, namun setelah itu ia pun masih sering membuat fatwa-fatwa nyleneh dan mengkhianati surat perjanjiannya hingga akhirnya ia mondar-mandir masuk penjara dan wafat di penjara sebagaimana nanti akan diutarakan ucapan dari para ulama.
Berikut ini pernyataan Ibnu taimiyyah tentang pertaubatannya:
Segala puji bagi Allah yang aku yakini bahwa di dalam al-Quran memiliki makna yang berdiri dengan Dzat Allah Swt. yaitu sifat dari sifat-sifat Dzat Allah Swt. Yang Maha Dahulu lagi Maha Azali dan al-Quran bukanlah makhluq, bukan berupa huruf dan suara, bukan suatu keadaan bagi makhluk sama sekali dan juga bukan berupa kertas dan tinta dan bukan yang lainnya. Dan aku meyakini bahwa firman Allah Swt.
الرحمن على آلعرش آستوى
Adalah apa yang telah dikatakan oleh para jama'ah (ulama) yang hadir ini dan bukanlah istawa itu secara hakekat dan dzohirnya, dan aku pun tidak mengetahui arti dan maksud yang sesungguhnya kecuali Allah Swt. bukan istawa secara hakikat dan dzohir seperti yang dinyatakan oleh jama'ah yang hadir ini. Semua yang bertentangan dengan akidah ini adalah batil. Dan semua apa yang ada dalam tulisanku dan ucapanku yang bertentangan dari semua itu adalah batil. Semua apa yang telah aku tulis dan ucapkan sebelumnya adalah suatu penyesatan kepada umat atau penisbatan sesuatu yang tidak layak bagi Allah Swt., maka aku berlepas diri dan menjauhkan diri dari semua itu.
Aku bertaubat kepada Allah dari ajaran yang menyalahiNya. Dan semua yang aku dan aku ucapkan di kertas ini maka aku dengan suka rela tanpa adanya paksaan.
Telah menulisnya:
(Ahmad Ibnu Taimiyyah)
Kamis, 6 Rabiul Awwal 707 H.
Di atas surat pernyaan itu telah ditandatangani di bagian atasnya oleh Ketua Hakim, Badruddin bin Jama'ah. Pernyataan ini telah disaksikan, diakui dan ditandatangani oleh:
Muhammad bin Ibrahim Asy-Syafi'i, beliau menyatakan: ”Aku mengakui segala apa yang telah dinyatakan oleh Ibnu Taimiyyah ditanggal tersebut.”
Abdul Ghani bin Muhammad al-Hanbali: “Aku mengakui apa yang telah dinyatakannya.”
• Ahmad bin Rif'ah
• Abdul Aziz an-Namrawi: “Aku mengakuinya.”
• Ali bin Miuhammad bin Khaththab al-Baji asy-Syafi'i: “Aku mengakui itu dengan tanggalnya.”
• Hasan bin Ahmad bin Muhammad al-Husaini: “Ini terjadi di hadapanku dengan tanggalnya.”
• Abdullah bin Jama'ah: “Aku mengakuinya.”
• Muhammad bin Utsman al-Barbajubi:
Aku mengakuinya dan menulisnya di hadapanku.”
Mereka semua adalah para ulama besar di masa itu salah satunya adalah syaikh Ibnu Rif'ah yang telah mengarang kitab al-Mathlabu al-'Aali syarah dari kitab al-Wasith imam Al-Ghozali sebanyak 40 jilid.
Namun faktanya Ibnu Taimiyah tidak lama melanggar perjanjian tersebut dan kembali lagi dengan ajaran-ajaran menyimpangnya. Sampai-sampai dikatakan oleh seorang ulama: "Akan tetapi tidak lama setelah itu Ibnu Taimiyyah melanggar perjanjian dan pernyataannya itu sebegaimana kebiasaan para imam sesat dan ia kembali pada kebiasaan lamanya di dalam menyesatkan umat."
Sidang kedua:
Diadakan hari Jum'at hari ke-12 dari bulan Rajab. Ikut hadir saat itu seorang ulama besar Shofiyuddin al-Hindiy. Maka mulailah pembahasan, mereka mewakilkan kepada Syaikh Kamaluddin az-Zamalkani dan akhirnya beliau memenangkan diskusi itu, beliau telah membungkam habis Ibnu Taimiyyah dalam persidangan tersebut. Ibnu Taimiyyah merasa khawatir atas dirinya, maka ia memberi kesaksian pada orang-orang yang hadir bahwa ia mengaku bermadzhab Syafi'i dan berakidah dengan akidah Imam Syafi'i. Maka orang-orang ridho dengannya dan mereka pun pulang.
Sidang ketiga:
Sebelumnya Ibnu Taimiyyah mengaku bermadzhab Syafi'i, namun pada kenyataannya ia masih membuat ulah dengan fatwa-fatwa yang aneh-aneh sehingga banyak mempengaruhi orang lain. Maka pada akhir bulan Rajab, para ulama ahli fiqih dan para Qodhi berkumpul di satu persidangan yang dihadiri wakil sulthon saat itu. Maka mereka semua saling membahas tentang permasalahan akidah dan berjalanlah persidangan sebegaiamana persidangan yang pertama. Setelah beberapa hari datanglah surat dari sulthon untuk berangkat bersama seorang utusan dari Mesir dengan permintaan Ketua Qodhi Najmuddin.
Di antara isi surat tersebut berbunyi: "Kalian mengetahui apa yang terjadi di tahun 98 tentang akidah Ibnu Taimiyyah. Maka mereka bertanya kepada orang-orang tentang apa yang terjadi pada Ibnu Taimiyyah. Maka orang-orang mendatangkan akidah Ibnu Taimiyyah kepada Qodhi Jalaluddin al-Quzwaini yang pernah dihadapkan kepada Ketua Qodhi Imamuddin. Maka mereka membincangkan masalah ini kepada Raja supaya mengirim surat untuk masalah ini dan Raja pun menyetujuinya. Kemudian setelah itu Raja memerintahkan Syamsuddin Muhammad al-Muhamadar Ibnu untuk mendatangi Ibnu Taimiyyah dan ia pun berkata kepada Ibnu Taimiyyah: Raja telah memerintahkanmu untuk pergi esok hari.
Maka Ibnu Taimiyyah berangkat ditemani oleh dua Abdullah dan Abdurrahman serta beberapa jama'ahnya.
Sidang keempat:
Maka pada hari ketujuh bulan Syawwal sampailah Ibnu Taimiyyah ke Mesir dan diadakan satu persidangan berikutnya di benteng Kairo di hadapan para Qodhi dan para ulama ahli fiqih dari empat madzhab. Kemudian Syaikh Syamsuddin bin Adnan asy-Syafi'i berbicara dan menyebutkan tentang beberapa fasal dari akidah Ibnu Taimiyyah.
Maka Ibnu Taimiyyah memulai pembicaraan dengan pujian kepada Allah Swt. dan berbicara dengan pembicaraan yang mengarah pada nasehat bukan pengklarifikasian. Maka dijawab: "Wahai Syaikh, apa yang Kau bicarakan kami telah mengetahuinya dan kami tidak ada hajat atas nasehatmu, kami telah menampilkan pertanyaan padamu maka jawablah!". Ibnu Taimiiyah hendak mengulangi pujian kepada Allah, tapi para ulama menyetopnya dan berkata:
Jawablah wahai Syaikh.
Maka Ibnu Taimiyyah terdiam. Dan para ulama mengulangi pertanyaan berulang-ulang kali tapi Ibnu Taimiyyah selalu berbeli-belit dalam berbicara. Maka seorang Qodhi yang bermadzhab Maliki memerintahkannya untuk memenjarakan Ibnu Taimiyyah di satu ruangan yang ada di benteng tersebut bersama dua saudaranya yang ikut bersamanya itu. Begitu lamanya ia menetap di penjara dalam benteng tersebut hingga ia wafat dalam penjara pada malam hari tanggal 22 Dzul Qo'dah tahun 728 H.
Sejarah ini telah ditulis oleh para ulama di dalam banyak literaul kitab yang mu'tabar diantaranya kitab ad-Durar al-Kaminah karya Ibnu Hajar, kitab Nihayah al-‘Arab fi Funun al-Adab karya asy-Syaikh Syihabuddin an-Nuwairy wafat 733 H cetakan Dar al-Kutub al-Misriyyah dan yang lainnya.
Demikianlah sejarah singkat Ibnu Taimiyah seorang figur dari cikal-bakal munculnya ajaran Wahhabiyyah dan seorang ulama andalan yang dijadikan rujukan oleh para ulama Wahhabi. Semoga hal ini menjadi renungan bagi para pengikut Wahabi, Aamiin.
No comments:
Post a Comment